Kamis, 05 Agustus 2010

Pengalaman “Aduh”


“Mencari kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan” adalah modus hidup manusia yang paling banyak dipilih. Dalam modus ini, manusia ingin menggapai hal-hal yang bersemenaan dengan kebahagiaan. Kebahagiaan itu biasa diwakili dengan terminologi Sukses, Kaya atau bahkan Kaya Raya, Hebat, Makmur, Sehat, Berhasil, Luar Biasa dan lainnya. Namun, usaha manusia dalam modus hidup “mencari kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan” tidak selalu berjalan mulus. Dalam usaha menggapai bahagia hampir selalu ada derita, upaya meraih suka kadang harus berakhir duka. Pengalaman derita, duka, gagal, kecewa atau sakit inilah yang kemudian saya sebut pengalaman “aduh”.

Rekan nan inspiratif,
Mari kita menoleh ke belakang sejenak. Ada berapa pengalaman yang membuat kita mengucap, “Aduh gagal maning”, atau “Aduh kok gaji ku gak naik-naik sih”, “Aduh sakitnya punggungku”, “Aduh anakku kok malah jadi nakal begini sih?”, atau “Aduh, si bos kasih aku kerjaan yang susah banget sih...” dan banyak lagi pengalaman”aduh” dalam perjalanan hidup kita.

Isi “Pengalaman Aduh” ialah ketidak-sesuaian antara apa yang diharapkan dengan apa yang nyata dihadapi. Orang berharap selalu sehat-bugar, tapi ternyata dia justru terkena demam berdarah, backpain, atau dia berharap baik-baik saja dan bisa jadi juara lomba bulutangkis eh ternyata keseleo dan kalah. Orang berharap untuk senang, bahagia dan sukses, tetapi tidak jarang justru dihadapkan pada kenyataan yang sebaliknya, sedih, derita, dan kegagalan. Tidak sesuainya harapan dengan kenyataan itulah yang menjadi isi utama dalam pengalaman “aduh”.

Mari kita ambil contoh. Semisal seorang pebisnis berharap bahwa omset bulanannya bisa mencapai kisaran 1 Milyar Rupiah. Dengan Target (harapan) itu si pebisnis melakukan begitu banyak upaya keras untuk berhasil. Somehow, dalam 6 bulan terakhir dia menemukan kekecewaan bahwa hanya satu bulan saja dia mencapai omset 1 milyar, artinya dalam 5 bulan selebihnya dia merugi hingga ratusan juta. Tentu di sini ada pengalaman “aduh”. Ada apa? Bagaimana “Pengalaman Aduh” itu muncul? Nah, pertanyaan lebih lanjut adalah mengapa ada ketidaksesuaian harapan dan kenyataan? Hmmm.... tentu ini pertanyaan yang dalam dan banyak model jawaban yang bisa disajikan. 

Rekan nan inspiratif,
Seperti sudah kita ketahui bahwa pengalaman aduh muncul karena ada ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, adanya clash of happiness and sorrow. Ketidaksesuaian ini bisa dipicu oleh beberapa hal, yang pertama: Setting target / Harapan yang kurang tepat; Kedua: Strategi yang belum jitu; Ketiga: Mind Set yang belum pas. Mari kita lihat sekilas satu per satu keempat kemungkinan penyebab pengalaman “aduh”.

Pertama, pengalaman “aduh” bisa teralami karena setting target atau harapan yang kurang tepat. Merancang target bukanlah hal yang mudah dilakukan, terutama jika target itu selalu disertai resiko besar. Dalam hal men-set sebuah target, seseorang atau sekelompok orang dalam sebuah organisasi/perusahaan harus mampu misalnya melihat kekuatan yang dimiliki untuk mencapainya, kecenderungan pasar, daya beli masyarakat maupun juga persistensi kualitas perusahaan itu sendiri. Terlalu berani membuat target yang tinggi tanpa resource yang memadai justru akan semakin memperlancar jalan kita menemui si pengalaman “aduh” yang sedianya harus dihindari. Berharap banyak akan suatu hal tanpa upaya dan kemampuan uji diri yang layak juga akan berujung pada kekecewaan.

Pedoman yang sudah umum dipakai banyak pihak dalam membuat target adalah prinsip SMART: Specific, Measureable, Achieveable, Reasonable dan in Time frame. Target harus selalu detail alias spesifik. Jauhi sifat abstrak dari sebuah target. Measureable, sebuah target harus dapat diukur secara objektif, apakah diukur dengan rupiah, diukur dengan presentase atau angka ukur lainnya. Target harus achieveable, berkemungkinan untuk dapat dicapai alias tidak mengada-ada. Reasonable alias masuk akal adalah ciri target yang mau menunjukkan bahwa target itu dibuat dengan alasan yang tepat dan bukan dari upaya reka-reka semata. Terakhir, target sebaiknya dibuat dalam batasan waktu pencapaian atau Time frame, hari, minggu, bulan dan sebagainya. Ulasan lebih lengkap tentang SMART Target silahkan click di sini.
Kedua: Strategi yang belum jitu. Pemenuhan sebuah harapan dan pencapaian suatu target tentu sangat ditentukan oleh strategi yang dijalankan. Apakah upaya pencapaian itu sekadar jalan atau asal-asalan? Untuk itu diperlukan studi serius tentang strategi pencapaian target. Apa strategi pemasaran yang tepat? Bagaimana dengan kompetitor, apa yang mereka lakukan?  Lain Ladang Lain Belalang, kata pepatah. Untuk sebuah target yang berbeda tentu membutuhkan pendekatan strategi yang berbeda pula.
Saya kutipkan pernyataan Pak Mario Teguh tentang strategi atau proses upaya: Kualitas tindakan menentukan kualitas Hasil, dan setiap tindakan PASTI menghasilkan.... Maka, berhentilah berfokus pada hasil yang TIDAK anda sukai. Berfokuslah pada PROSES yang akan menghasilkan dengan baik. Singkatnya, if that way wasn’t work, try another way. Salah melakukan strategi akan mempersingkat jarak kita dengan si pengalaman “Aduh”.
Ketiga: Mind Set dan Attitude yang belum pas. Cara kita memandang diri, apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri adalah suatu energi yang akan menarik kita pada isi pikiran kita itu. Cara pandang kita akan sangat menentukan sikap kita. Ketika kita menentukan sebuah tujuan, tentukanlah itu dengan menggunakan modalitas alam sadar dan alam bawah sadar  sekaligus. Anda ingin mengurangi berat badan hingga turun 9 kg dalam waktu 2 bulan, tetapi tujuan itu dibuat masih oleh logika kita saja, bagian kepala saja (alam sadar). Coba tambahi dengan muatan emosional, ikutkan alam bawah sadar Anda. Caranya? Latihlah diri Anda dengan relaksasi dan gunakan indera Anda untuk merasakan apa saja yang terasa saat relaksasi itu, lalu mulai rasakan RASAnya turun berat badan 9 kg dalam 2 bulan.
Lagi, saya kutipkan pernyataan Pak Maio Teguh: Tidak ada yang bisa menghalangi KEBERHASILAN ANDA YANG SIKAPNYA TEPAT, dan tidak ada yang bisa menolong orang yang sikapnya salah. Jika Anda menyikapi kesulitan sebagai perintah untuk memperbaiki diri, maka keberhasilan menjadi wajar dan hanya masalah waktu. Tetapi, orang yang mengkritik setiap nasehat baik, akan menua dalam kelemahan masa mudanya. KETEPATAN SIKAP ADALAH DASAR DARI SEMUA KEBERHASILAN.
Rekan nan inspiratif, 
Ketiga kemungkinan sebab munculnya pengalaman “aduh” ini tentu bisa menjadi sesuatu yang nyata dan terkadang harus dihadapi dengan segala upaya kita untuk menjadi manusia-manusia pembelajar. Semua orang mengharapkan kebahagiaan, tetapi tidak semua orang siap menghadapi derita dan kekecewaan. Untuk itu, kenalilah sebab munculnya pengalaman aduh Anda, dan bersiaplah selalu untuk menjadi manusia pembelajar nan inspiratif bagi sesama.
Baca selengkapnya... Pengalaman “Aduh”

Minggu, 01 Agustus 2010

SUKSES dengan SMART Goal

SUKSES dengan SMART Goal
Menjadi SUKSES adalah impian banyak orang. Mendekati kesuksesan dan menjadi sukses bisa ditempuh dengan 5 Prinsip Sukses. Banyak praktisi NLP maupun Pakar Pengembangan Diri menyebutkan bahwa satu dari 5 kunci sukses adalah Memiliki dan Membuat Tujuan yang Jelas. Punyakah Anda? Sudahkah Anda membuat tujuan? Bagaimana membuat tujuan (goal) yang seharusnya?

Tigapuluhan tahun yang lalu, George T. Doran memperkenalkan konsep SMART Goal dalam sebuah jurnal dalam Management Review, November 1981. SMART goal atau tujuan SMART adalah konsep penetapan pencapaian dan sekaligus evaluasi atas kriteria pencapaian tujuan. SMART adalah singkatan. S mewakili Specific, Stretching atau Simple. M untuk Measureable, Manageable, meaningful. A adalah perwakilan dari Attainable, Achieveable, Actionable. R biasa diasosiasikan dengan Realistic, Result, Reasonable atau Rewarding. Terakhir, T adalah Timed, Time-framed, Tangible, Trackable. Mari kita alami arti setiap huruf SMART.

S adalah Specific. Ambillah pena dan segerakan diri Anda untuk menulis Tujuan Hidup yang Spesific, Khusus, Detail. Tujuan yang spesifik dan detail bisa dibuat dengan menuliskan apa yang anda inginkan supaya tercapai, yaitu dengan menjawab 5W, What : Apa yang Anda ingin capai, Apa yang mau diraih? Who: Siapa yang terlibat? Where: Dimana itu akan terjadi dan tercapai? When: Kapan hal itu harus tercapai? Why: Mengapa Anda menginginkan supaya ini tercapai? Alasan pencapaian yang penting. Akan menjadi lengkap anda jawab juga How: Bagaimana anda akan melakukannya.

Baca ulang tujuan yang baru saja Anda tuliskan. Pastikan bahwa tujuan Anda sudah spesifik, jelas dan mudah dipahami. Daripada menuliskan mengurangi berat badan atau menjadi sehat selalu, tulislah tujuan yang spesifik: mengurangi lingkar pinggang 2cm pada saat ulang tahun ke 26 atau Mengikuti fitness seminggu 3 x sehingga pada saat libur ke bali akhir desember 2010 sudah memperoleh bentuk perut six packs.

M adalah Measureable. If you can’t measure it, you can’t manage it. Measureable artinya dapat diukur secara objective. Tujuan yang measureable adalah tujuan yang di dalamnya ada jawaban atas pertanyaan, “Seberapa…”, Berapa kali, berapa banyak? Dan bagaimana saya tahu bahwa saya sudah mencapai tujuan?”. Bagaimana Anda tahu anda sudah mencapai Goal? Jadilah spesifik. “Saya sudah membaca 2 buku manajemen dengan ratusan halaman hingga akhir fiscal year baru, April 2011.” Bandingkan dengan “I want to be a good reader” yang kurang bahkan tidak terukur.
Ketika Anda mengukur perkembangan pencapaian tujuan, kita sedang ada di jalur yang benar. Ketika mengevaluasi diri, kita akan mengetahui bahwa kita sudah mencapai atau belum mencapai tujuan. Kalau belum maka kita punya kekuatan untuk tetap berusaha mencapai tujuan itu. Ada data dan fakta yang berbicara untuk menilai dan mengukur keberhasilan pencapaian tujuan kita, itulah maksudnya terukur, measureable.

A adalah Attainable dan atau Achieveable. Terjangkau dan dapat dicapai, itulah ciri tujuan yang baik yang semakin mendekatkan kita dengan kesuksesan. Pada waktu Anda merancang tujuan yang PENTING untuk dicapai, Anda langsung membayangkan, mencari ide dan cara untuk merealisasikan tujuan tersebut. Anda melihat beberapa kemungkinan, Anda melihat kesempatan bahwa tujuan itu bisa diraih.

Tujuan yang terlalu tinggi dan jauh dari pencapaian tentu akan membuat Anda tidak komit untuk menjangkaunya, membuat Anda tidak termotivasi untuk mencapai tujuan Anda. Misal Anda bercita-cita ingin menjadi Astronot, padahal secara fisik anda memiliki pandangan yang kabur, mata minus, dan secara teknis Anda tidak lulus SMU. Atau Anda punya hobbi jajan makanan dan minuman alias ngemil, bobot Anda sekarang adalah 100 kg. Anda punya tujuan mengurangi berat badan 1kg setiap harinya hingga mencapai berat ideal. Semua teman dekat Anda juga tentu tahu bahwa dengan tujuan itu, Anda justru semakin tertekan oleh tujuan anda sendiri karena tidak bisa mencapainya. Tetapi dengan menetapkan tujuan mengurangi berat badan 1kg dalam seminggu terus dan sehingga saat itu tercapai setiap minggunya, Anda akan semakin termotivasi untuk tetap melakukannya hingga Tujuan Akhir Anda, mencapai berat ideal 80kg. Perasaan Sukses yang muncul itulah yang akan tetap memotivasi Anda. Rasakanlah.

R adalah Realistic dan Reasonable. Miliki dan rancanglah tujuan yang realistis. Serupa tapi tak sama dengan ciri tujuan Attainable, tujuan yang realistis adalah tujuan yang dapat dijalankan. Realistik bukan berarti mudah, realistik berarti sesuai kondisi diri dan do-able. Tujuan yang realistik bisa saja mendorong orang ke ujung kemampuan dan pengetahuannya tetapi tidak akan mematahkan semangat untuk mencapainya.

Reasonable adalah dapat dipertanggungjawabkan. Tidak hanya sekadar mengarang tujuan hidup, tetapi membuat tujuan yang bisa dijalankan dengan bentuk-bentuk usaha yang mengarah pada kesuksesan pencapaian. Kalau saat ini Anda pekerja kantoran level supervisor, kemudian punya tujuan menjadi manager dalam tempo 1 tahun kurang, tentu itu bukanlah tujuan yang realistis. Menjadi realistis kalau tujuannya adalah menjadi Manager 2 tahun ke depan, atau menjadi Assistant Manager 1 tahun ke depan. Bagaimanapun juga Anda bisa stretching, melenturkan tujuan ke sesuatu yang lebih tinggi. Being realistic and reasonable will stretch you to the optimum stage.

T adalah Time framed. Dari beberapa ciri dan contoh tujuan yang sudah anda baca di artikel ini, anda tentu sudah bisa memahami bahwa ciri lain dari tujuan yang baik adalah ada tenggat waktunya. Semua dari kita selalu ada dalam konteks waktu. Sadarilah bahwa kita hanya punya waktu yang terbatas, begitu juga umur kita ini terbatas. Maka, batasilah pula suatu tujuan dengan waktu yang masuk akal, sehingga Anda bisa segera mencapai tujuan yang lain. Batasan waktu yang dibuat selain harus jelas, spesifik, juga harus masuk akal.

Rancanglah tujuan dengan tenggat waktu yang jelas, 1 minggu 7 hari, 30 hari, 1 tahun, atau tentukan tanggal dan waktu yang spesifik. Tanpa batasan waktu yang jelas, maka tidak akan ada sense of urgency yang akan mendorong kita untuk segera bertindak. Komitment akan muncul dalam konteks waktu, karena tenggat waktunya spesifik. Jika tidak maka kita akan berpikir bahwa kita bisa melakukannya kapan saja, atau ah nanti saja. Sikap yang muncul dari ketidaktegasan kurun waktu inilah yang justru akan menjauhkan kita dari SUKSES. Anda mau semakin dekat dengan Sukses? Untuk itu buatlah tujuan dengan batasan waktu yang jelas, Time framed.

Bagaimana? Sudahkah Anda rumuskan TUJUAN Anda secara Spesific, Measureable, Atainnable, Realistic, dan Time-framed? Sudahkah Anda membuat tujuan yang SMART? Lakukan dengan jujur dan yakinlah bahwa setiap Anda akan mendapat benefit dari hal ini. Ikuti saja prosesnya dan segera rasakan SUKSES.
Oleh Alfonsus Aditya, Trainer SUPER. Asst. General Manager of Wira Cipta Mandiri.
Baca selengkapnya... SUKSES dengan SMART Goal

Jumat, 16 Juli 2010

SURAT CINTA

Writing a Love Letter

Ali was one of Nasreddin’s neighbours. When he was a child, he did not learn to read and write. When he was an adult, of course he was illiterate.

One night he wanted to send a letter to his wife who lived away from the place. The News was so urgent that he decided to write it right away. Then he went to Nasreddin’s house. It was almost midnight when Ali knocked at the door. Nasreddin was lying on the bed, ready to sleep. At last Nasreddin open the door.

“It is late at night. What’s the matter?” he asked.
Ali replied, “I need your help badly, Nasreddin.”
Nasreddin answered, “You want to borrow some money? I don’t have much either.”

“No, Nasreddin, I need your help to write a letter for me. I will send it right away to my wife. I have something very important to tell her. Please help me Nasreddin,” said Ali.

At first Nasreddin refused to help him. But Ali insisted him on writing the letter. Finally Nasreddin gave up.

“How far is your wife place from here?” asked Nasreddin.
“Does it make any difference? Whether the distance is near or far, the letter will arrive there,” answered Ali.

“That’s very different, Ali. My handwriting is very strange to other people. It’s only my wife and i that can read it. So later i have to go to your wife’s place and read the letter for her. Therefore, if the place is very far, you should pay me a lot of money to travel there,” Nasreddin explained.

Hearing the explanation, Ali looked disappointed and angry. He left Nasreddin without saying a word. Nasreddin was smiling, seeing Ali got out from the house.
(Rewrite from Nasreddin, The Wise Man)

Inspirasi apa yang bisa kita ambil dari cerita/ilustrasi ini?
Percikan inspirasinya adalah bahwa: Jangan Buta Huruf.... Blajar nulis dan baca donk, hehehe... Inspirasi itu jelas ya.
Tapi satu hal yang menarik (ini mulai agak serius) adalah ketika kita tidak mau belajar (tentang apapun yang baik & positif) entah kapan dan bagaimana, suatu saat kita akan membutuhkannya. Suatu saat itu kapan? Suatu saat itu tidak bisa diprediksikan, tetapi bisa saja di saat mendesak, seperti Ali tetangga Nasreddin. Belajar tidak harus dengan duduk di kelas atau mendengar trainer bicara di depan ruangan yang cenderung membosankan. Belajar bisa juga belajar yang menyenangkan. Belajar yang mungkin kita senangi. Bisa belajar memasak, belajar menyanyi (walau mungkin kelas karaoke), Belajar computer literation maybe? Dan yang lainnya.

Semoga ini menginspirasi kita untuk selalu mau belajar...!
Semoga...
Tuhan Memberkati.

Baca selengkapnya... SURAT CINTA

Bentuk dan Sebab Perilaku TIDAK Menyenangkan

Memiliki rekan kerja atau mitra dengan perilaku menyebalkan terkadang sangat tidak menyenangkan. Berkomunikasi atau bekerja sama dengan mitra kerja seperti itu menjadi pilihan terakhir dalam pikiran Anda.
Perkataan yang dilontarkan rekan atau atasan seringkali membuat tersinggung meski Anda telah melakukan tanggung jawab dan kewajiban. Kesalahan kecil saja, membuat atasan langsung menegur Anda. Atau, bisa juga rekan kerja meminta Anda melakukan sesuatu seperti layaknya seorang bos.
Seperti dikutip dari the Frisky, pakar kepemimpinan dan psikolog Sylvia LaFair membuka alasan di balik perilaku menjengkelkan rekan kerja. Menurutnya, perilaku menyebalkan di kantor berakar dari pengalaman yang dialami pada masa kanak-kanak. Hmmm... Teori yang menarik.
Sylvia menawarkan teknik baru untuk mengidentifikasi asal-usul perilaku kerja yang buruk dan meredakan kebiasaan berbahaya tersebut. Langkah pertama mengidentifikasi pola kerja yang tak berfungsi di kantor. Setelah itu, lakukan perubahan secara menyeluruh.
Buku karangan Sylvia LaFair, 'Don’t Bring It To Work' menjelaskan beberapa jenis disfungsi prilaku dalam kerja serta penyebab luka dari masa kecil mereka.
1. Penganiaya (Persecutor)
Orang jenis ini tak segan mengatur hal-hal kecil dan memperhatikan pelanggaran-pelanggaran orang lain. Beberapa cirinya adalah email pasif-agresif yang cenderung menyalahkan orang lain.
Mengapa terjadi? Orang seperti ini tumbuh dengan pelecehan atau pengabaian dari orang tua.
2. Pura-pura (Denier)
Karyawan tipe ini tidak realistis dan berpura-pura tidak ada masalah dalam pekerjaan atau kondisi kantor. Saat keuangan kantor mengalami kerugian dan krisis berat, pendapat sebagian besar orang adalah "Perusahaan akan bangkrut". Mereka akan keukeuh dengan ucapan, "Akan ada bonus untuk semua orang!"
Kemungkinan terbesar dari tipe orang ini adalah mereka berasal dari keluarga yang takut membicarakan hal-hal tidak menyenangkan.

3. Penghindar (Avoider)
Dia adalah orang pertama yang menghindari atau keluar kantor setiap kali akan berlangsung rapat yang akan menyampaikan 'berita buruk' atau menjelang deadline. Sebabnya, di masa kanak-kanak, orangtua mereka terlalu menghakimi atau tidak memiliki hubungan kuat dengan orang tua.
4. Si Berprestasi (Super Achiever)
Orang seperti ini mendorong diri agar terus unggul dalam segala hal. Mereka memimpikan untuk selalu meraih keuntungan bagi dirinya. Orang seperti ini akan merasa gagal jika ada hal yang menyiratkan bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Jadi, sekuat tenaga, tipe seperti ini akan berusaha membuat orang lain terlihat buruk.
Di masa kecil, biasanya orang seperti ini memiliki pengalaman rasa malu atau tragedi dalam keluarga. Maka, mereka berusaha menebusnya dengan segala cara.
5. Martir
Orang ini melakukan pekerjaan semua orang. Mereka datang lebih awal setiap hari dan bekerja lembur setiap malam. Mereka juga bangga dan selalu menceritakannya kepada semua orang.
Alasan utama dari prilaku pekerja jenis ini adalah semasa kecil mereka mencoba untuk menyenangkan orangtua yang tidak menyukai impian mereka.
Apakah salah satu jenis tersebut terdengar akrab bagi Anda?
(Recited from Vivanews.)

Baca selengkapnya... Bentuk dan Sebab Perilaku TIDAK Menyenangkan

Kamis, 15 Juli 2010

HOW TO THINK STRATEGICALLY ?


Tentu kita semua pernah mendengar bahwa Work Hard sudah harus dibarengi dengan Work Smart. Untuk bisa work smart, seseorang harus belajar untuk bekerja secara efektif sekaligus efisien. Untuk itu dibutuhkan kemampuan berpikir nan strategis. Bagaimana kita bisa mengasah cara berpikir supaya bisa berpikir stratejik atau think strategically ? Menurut Michael Watkins, ada 6 cara, yaitu :
1. IMMERSION. Dengan berganti suasana baru, kita harus berpikir keras untuk berpikir menyesuaikan diri dengan cepat. Hal ini mampu merangsang kita untuk berpikir lebih jauh untuk mencari kesamaan pola dalam pekerjaan, dan inilah berpikir stratejik.
2. APPARENTICESHIPS. Ibarat belajar silat, jika kita terus mengikuti sang guru ke mana saja, maka kita bisa belajar banyak darinya. Begitu juga jika mengikuti sang business hero, maka kita juga mampu ketularan berpikir stratejik.
3. SIMULATIONS. Dengan simulasi kita bisa melihat cause-effect dari berbagai fenomena, melihat suatu sistem secara holistik, dan inilah jalan untuk berpikir strategis.
4. GAME-THEORY TRAINING. Ini masalah aksi-reaksi dalam kehidupan, termasuk dalam berbisnis. Bagaimana memperkirakan langkah tandingan dari lawan sebagai counter terhadap langkah kita. Inilah aspek dinamis dari strategi, dan memaksa kita untuk berpikir stratejik.
5. CASE-BASED EDUCATION. Dengan belajar memecahkan kasus, kita bisa belajar seolah-olah sedang menjadi ahli strategi atau top decision maker pada sebuah organisasi untuk memecahkan masalah. Ini juga akan mengasah kemampuan berpikir stratejik.
6. COGNITIVE RESHAPING. Mempertajam kemampuan kognitif, tidak hanya berpikir linier, melainkan juga dinamis, holistik, dan sistemik, akan membawa kita kepada kemampuan berpikir stratejik yang baik.

Mari kita coba...

Baca selengkapnya... HOW TO THINK STRATEGICALLY ?

Rabu, 14 Juli 2010

Sang Pemimpin, Who is that?

Pengertian Kepemimpinan

Secara sederhana, apabila berkumpul tiga orang atau lebih kemudian salah seorang di antara mereka “mengajak” teman-temannya untuk melakukan sesuatu (Apakah: nonton film, berman sepek bola, dan lain-lain). Pada pengertian yang sederhana orang tersebut telah melakukan “kegiatan memimpin”, karena ada unsur “mengajak” dan mengkoordinasi, ada teman dan ada kegiatan dan sasarannya. Tetapi, dalam merumuskan batasan atau definisi kepemimpinan ternyata bukan merupakan hal yang mudah dan banyak definisi yang dikemukakan para ahli tentang kepemimpinan yang tentu saja menurut sudut pandangnya masing-masing. Beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut :

1. Koontz & O’donnel, mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan kelompoknya.

2. Wexley & Yuki [1977], kepemimpinan mengandung arti mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka.

3. Georger R. Terry, kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang untuk bersedia berusaha mencapai tujuan bersama.

4. Pendapat lain, kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau sekelompok orang.

Dari keempat definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sudut pandangan yang dilihat oleh para ahli tersebut adalah kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Definisi lain, para ahli kepemimpinan merumuskan definisi, sebagai berikut: [1] Fiedler [1967], kepemimpinan pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan [2] John Pfiffner, kepemimpinan adalah kemampuan mengkoordinasikan dan memotivasi orang-orang dan kelompok untuk mencapai tujuan yang di kehendaki. [3] Davis [1977], mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan penuh semangat . [4] Ott [1996], kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses hubungan antar pribadi yang di dalamnya seseorang mempengaruhi sikap, kepercayaan, dan khususnya perilaku orang lain. [5] Locke et.al. [1991], mendefinisikan kepemimpinan merupakan proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama Dari kelima definisi ini, para ahli ada yang meninjau dari sudut pandang dari pola hubungan, kemampuan mengkoordinasi, memotivasi, kemampuan mengajak, membujuk dan mempengaruhi orang lain.

Dari beberapa definisi di atas, ada beberapa unsur pokok yang mendasari atau sudut pandang dan sifat-sifat dasar yang ada dalam merumuskan definisi kepemimpinan, yaitu:

a. Unsur-unsur yang mendasari

Unsur-unsur yang mendasai kepemimpinan dari definisi-definis yang dikemukakan di atas, adalah: [1] Kemampuan mempengaruhi orang lain [kelom pok/bawahan]. [2] Kemampuan mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok. [3] Adanya unsur kerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

b. Sifat dasar kepemimpinan

Sifat-sifat yang mendasari kepemimpinan adalah kecakapan memimpin. Paling tidak, dapat dikatakan bahwa kecakapan memimpin mencakup tiga unsur kecakapan pokok, yaitu: [1] Kecakapan memahami individual, artinya mengetahui bahwa setiap manusia mempunyai daya motivasi yang berbeda pada berbagai saat dan keadaan yang berlainan. [2] Kemampuan untuk menggugah semangat dan memberi inspirasi. [3] Kemampuan untuk melakukan tindakan dalam suatu cara yang dapat mengembangkan suasana [iklim] yang mampu memenuhi dan sekaligus menimbulkan dan mengendalikan motivasi-motivasi [Tatang M. Amirin, 1983:15]. Pendapat lain, menyatakan bahwa kecakapan memimpin mencakup tiga unsure pokok yang mendasarinya, yaitu : [1] Seseorang pemimpin harus memiliki kemampuan persepsi sosial [sosial perception]. [2] Kemampuan berpikir abstrak [abilitiy in abstrakct thinking]. [3] Memiliki kestabilan emosi [emosional stability].

Bahasa saya, pemimpin adalah dia yang bisa bermimpi dan mewujudkannya, Sepi ing pamrih, rame ing gawe, lebih maju tanpa mendahului (nyalip) dan lebih tinggi tanpa menrendahkan orang lain. Nah pasti deh dengan itu dia bisa membujuk orang lain untuk mencapai tujuan bersama. (Dari berbagai sumber)

SEMOGA...!!


Baca selengkapnya... Sang Pemimpin, Who is that?

Senin, 12 Juli 2010

Fate is Not Logical

Recited form Nasreddin the Wise Man book:

Nasreddin was walking home relaxingly through the street in his neighborhood. The streets was very narrow and the house were very close to it. When he walked in front of a shabby hose, suddenly a man fell from the roof onto him. The man was fixing the roof of his house.

The man did not injure himself even a bruise. On the other hand, Nasreddin broke his neck. Therefore, he should be hospitalized. When he was in the hospital, most of his friends visited him. One of them asked him, "Nasreddin, what lesson can you take from the accident?"

Nothing but one, don't believe to saying that fate is always logical".

"How can you conclude that lesson?" asked his friend further.

"The man fell down from the roof. If the fate was logical he would have broken his neck or injured himself. But the reality was he fell from the roof, i broke my neck," said Nasreddin.
Baca selengkapnya... Fate is Not Logical

Rabu, 07 Juli 2010

Yang Pertama

Yang Pertama. Inilah postingan pertama dalam blog ini. Yang Pertama mau disampaikan ialah maksud blog ini. Seperti judulnya, blog ini pertama-tama dimaksudkan untuk membuka kesempatan kepada pembaca sekalian untuk memberi dan menerima inspirasi dalam banyak bidang. Inspirasi tentu pertama kali dipahami sebagai sesuatu yang bisa mengilhami dan mendorong kita untuk berbuat lebih baik, lebih cepat, lebih segar dan lebih HIDUP.

Yang Pertama muncul dalam benak dan menggerakkan diri kita itulah inspirasi. Sesuatu yang ada dalam semangat kita: in spiritu.

Ketika anda bergelimang semangat maka curahkanlah dalam blog ini. Ketika ada dilanda dehidrasi semangat atau kekurangan ide, singgahlah di blog ini. You are always welcomed to join.

Lalu, ini menjadi undangan untuk Anda.
Jadilah Yang Pertama dalam memberi.
Jadilah Yang Pertama membaca
Jadilah Yang Pertama mengomentari
Jadilah yang Pertama mengunjungi blog ini setiap harinya...

Jadilah Yang Pertama dalam kebaikan...
Yang Pertama.
Baca selengkapnya... Yang Pertama

Alfonsus Aditya's Another Life